Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Saturday, June 11, 2011

Cara Mendidik Anak Mengenai Makanan yang Sehat



Menciptakan lingkungan dimana anak-anak bisa membuat pilihan nutrisi yang sehat adalah salah satu langkah penting yang bisa anda ambil untuk memastikan kesehatan anak anda.

Dengan mengembangkan lingkungan yang supportive, anda dan keluarga anda bisa mengembangkan hubungan yang positif dengan makanan yang sehat. Anda bisa memimpin dengan memberi contoh.

Berikut ini 10 tips yang ditawarkan oleh Melinda Sothern, PhD, co-author dari Trim Kids dan direktur dari childhood obesity prevention laboratory di Louisiana State University

1. Hindari memberikan batasan pada makanan. Sebab bisa meningkatkan resiko anak tersebut untuk mengalami gangguan pola makan misalnya anorexia atau bulimia saat dia tumbuh dewasa.
Itu juga bisa memberikan efek negatif terhadap perkembangan dan pertumbuhannya. Dari pada mengutuk makanan, lebih baik ajak dia ngobrol tentang semua makanan sehat yang tersedia. Dorong keluarga anda untuk memilih buah, sayuran, nasi, daging, dan susu, sambil menghindari junk-food.

2. Siapkan makanan yang sehat. Anak-anak akan makan apa saja yang tersedia. Taruh buah diatas meja, jangan menguburnya di dalam lemari es. Ingat, anak anda hanya bisa memilih makanan yang anda simpan di dalam rumah. “Aksi anda akan berteriak lebih keras dibanding apapun yang akan anda katakan pada mereka,” kata Sothern.

3. Jangan memberi label “baik” atau “buruk” pada makanan. Lebih baik, hubungkan makanan tersebut dengan sesuatu yang disukai oleh anak anda, misalnya sport atau menjadi cerdas di sekolah.
Biarkan anak anda tahu bahwa protein misalnya ayam dan kalsium yang terdapat di dalam susu itu akan memberikan mereka kekuatan saat berolah raga. Antioxidant di dalam buah dan sayuran akan menambahkan kilauan pada kulit dan rambut. Dan sarapan yang sehat itu bisa membantu mereka tetap fokus di dalam kelas.

4. Puji pilihannya yang sehat. Berikan senyuman dan pujian pada anak anda saat mereka memilih makanan yang sehat, misalnya buah, sayuran, nasi, atau susu.

5. Jangan mengomeli pilihannya yang tidak sehat. Saat anak anda memilih lemak, gorengan, makanan-makanan yang tidak sehat, arahkan mereka untuk memilih makanan yang lebih sehat. Dari pada melarang mereka memilih makanan yang tidak sehat, lebih baik tawari mereka pilihan yang sehat.

6. Jangan pernah menggunakan makanan sebagai hadiah. Sebab nantinya hal ini bisa menimbulkan masalah pada berat badan. Lebih baik, hadiahi anak anda dengan sesuatu yang bersifat fisik dan menyenangkan, misalnya berjalan-jalan ke taman hiburan.

7. Makan malam bersama. Jika ini belum menjadi tradisi di rumah anda, mulailah. Research menunjukkan bahwa anak-anak yang makan satu meja dengan orang tuanya, punya nutrisi yang lebih baik dan memperkecil resiko mereka untuk mendapat masalah saat memasuki usia remaja.

8. Persiapkan piring di dapur. Dari pada menggunakan gaya “layani diri sendiri,” anda bisa menempatkan porsi yang tepat untuk masing-masing item pada piring semua orang. Dengan cara ini, anak anda bisa belajar cara mengenali ukuran porsi yang sehat.

9. Berikan sedikit kekuasaan pada anak anda. Mintalah anak anda untuk mencicipi semua makanan yang ada diatas piring dan memberikan nilai pada makanan tersebut, misalnya A, B, C, D, atau F. Jika makanan yang sehat, terutama sayuran tertentu mendapat nilai yang tinggi, sajikan lebih sering.

10. Konsultasikan dengan ahli gizi. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum menempatkan anak anda pada program diet untuk menurunkan berat badan, atau mencoba menambah berat badannya, atau membuat perubahan yang signifikan terhadap makanan yang dimakan oleh anak anda.

Jangan pernah mendiagnosa sendiri anak anda sebagai anak yang terlalu gemuk atau terlalu kurus. “Semua ini adalah tentang perubahan secara bertahap. Itu tidak akan terjadi dalam waktu singkat, dan ini adalah sebuah perjuangan yang berat bagi orang tua,” kata Sothern.
Semua yang ada diluar rumah mencoba untuk membuat anak anda mengalami obesitas. Begitu mereka keluar rumah, akan ada orang-orang yang mencoba untuk membuat mereka makan terlalu banyak.” Pelajaran yang anda ajarkan kepada anak anda bisa melindungi mereka untuk seumur hidup.

Saturday, May 21, 2011

Tips Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak


Emotional Intelligence, atau EQ, merupakan indikator non intelektual, yang berupa sifat psikologis individu. Jika seorang anak menunjukkan sifat suka menyendiri, perilaku yang abnormal, sulit bekerja sama, memiliki perasaan rendah diri, sangat rapuh dan tidak mampu menghadapi rintangan, sering menunjukkan ketidaksabaran, egois atau kurang memiliki kestabilan emosi, semuanya mungkin saja mengindikasikan EQ yang rendah. EQ sangat penting untuk keberhasilan hidup seseorang. Oleh karena itu, bagaimana membina dan meningkatkan EQ seorang anak menjadi masalah yang sangat penting. Hal-hal berikut ini memberikan panduan tentang cara membina EQ seorang anak.

1. Mendidik anak-anak untuk bertahan dalam situasi sulit

Ada cerita nyata tentang sekelompok anak yang pergi ke gunung untuk piknik. Mereka tersesat dalam perjalanan pulang dan harus menghadapi malam dalam keadaan lapar, lelah dan penuh ketakutan. Mereka merasa tidak punya harapan dan malam itu dilalui dengan penuh air mata. Salah satu anak berkata sambil menangis: Tidak ada yang akan menemukan kita dan kita semua akan mati di sini. Namun, Evelyn yang berumur 11 tahun berdiri dan berkata dengan tegas: "Tidak! Saya tidak akan mati! Ayah saya mengatakan bahwa selama kita berjalan mengikuti aliran, aliran akan membawa kita ke sebuah sungai, yang pada akhirnya membawa kita ke sebuah kota kecil. Saya berencana untuk berjalan di sepanjang sungai, kalian boleh mengikuti saya jika mau. Dipimpin oleh Evelyn, mereka berhasil keluar dari hutan. Kepercayaan diri, keberanian dan tekad yang dimiliki oleh Evelyn bukanlah sifat bawaan, tetapi adalah hasil asuhan, pendidikan dan pengaruh keluarga.

2. Menanamkan ketahanan dan pengendalian diri

Bagaimana cara melatih anak agar mampu mengendalikan diri? Misalnya, ketika anak menghabiskan uang saku mingguan lebih cepat dari yang seharusnya, orang tua dapat berkata: “Jika kamu berhasil menyimpan setengah jatah uangmu minggu ini, akan Ayah gandakan jumlah uang sakumu minggu depan.Jika kamu terbiasa menyimpan uang, walaupun itu hanya dalam jumlah kecil, kamu akan mampu membeli barang yang lebih besar.“
Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak saat menghadapi tantangan, seperti misalnya gagal ujian atau mendapat nilai tes yang buruk. Orangtua perlu mendorong anak-anak mereka untuk berusaha lebih keras dan tidak menyerah. Dengan kata lain, orang tua perlu mengajarkan mereka agar tahan dalam menghadapi rintangan.

3. Menghadapi dunia luar

Karena terlalu khawatir, banyak orangtua melarang anaknya pergi ke luar sendirian. Karena hal ini, anak-anak jadi kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dan bertemu orang baru. Ketika anak kecil melihat seseorang yang tidak ia kenal, ia mungkin akan menangis atau memilih menyendiri. Setelah tumbuh dewasa, mereka menjadi sensitif dan kurang berani untuk berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Kurang percaya diri menyebabkan mereka tidak punya banyak teman. Ketika dewasa, mereka akan sulit mencapai potensi penuh yang dimiliki serta menghadapi kesulitan berurusan dengan masyarakat. Oleh karena itu, orang tua harus membantu anak-anak mereka untuk memahami dunia luar. Orang tua juga harus memberikan kesempatan berinteraksi lebih banyak untuk anak-anak yang penakut. Seorang anak yang mampu menghadapi masyarakat tanpa rasa takut juga akan lebih percaya diri saat berhadapan dengan guru dan rekan-rekannya di sekolah.

4. Menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas dan imajinasi

Anak-anak secara bawaan dilahirkan dengan rasa ingin tahu, sehingga, secara alami anak kecil akan tertarik menyentuh sesuatu, merasakan hal-hal dan bahkan membongkar barang-barang yang ia temui. Kadang-kadang, mereka bisa saja membuat berantakan seisi rumah. Ini adalah ekspresi dari kehausan mereka akan pengetahuan dan cara yang penting bagi mereka untuk memperoleh keterampilan baru. Dengan cara ini, mereka juga berusaha untuk memahami bagaimana sesuatu bekerja. Orang tua harus dengan sabar memenuhi rasa ingin tahu anak. Ini dapat diwujudkan dengan menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu serta menggunakan barang-barang yang mereka minati.

5. Beri anak-anak kesempatan untuk melatih cara pikir mereka

Seorang anak laki-laki tidak bisa menaiki anak tangga karena dia terlalu kecil. Dia meminta ibunya untuk mengangkatnya. Ibunya berkata: “Kamu bisa melakukannya, coba gunakan akal dan pikirkan sejenak bagaimana melakukannya.” Kemudian, anak itu punya. ide: “ Jika saya pindahkan boks mainan saya di sini, saya dapat menggunakannya untuk pijakan”. Anak itu berpikir dan berusaha memecahkan masalah berkat nasihat ibunya. Hal ini memotivasi anak untuk menciptakan solusi. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak pendekatan masalah yang bisa dilakukan selama kita mencurahkan waktu sejenak untuk memikirkannya.

6. Menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk bangkit dari kegagalan

Seorang gadis yang adalah pesenam berbakat berumur 12 tahun berbicara dengan pelatih senam kelas atas. Alih-alih meminta dia menunjukkan keterampilan senam nya, pelatih memberikan empat anak panah kecil kepadanya. Pelatih kemudian meminta dia melemparkan anak panah pada target di seberang kantornya. Gadis kecil dengan takut bertanya: ”Bagaimana jika saya meleset?” Pelatih memberitahu dia: “Anda harus berpikir tentang sukses, bukan sebaliknya.” Gadis itu melemparkan anak panah satu demi satu dan akhirnya berhasil mengenai pusat sasaran. Ajarkan pada mereka untuk pertama-tama berpikir akan kesuksesan, dan bukan kegagalan. Rasa percaya diri dan sikap positif akan membimbing mereka menuju jalan keberhasilan. Orang-orang sukses pertama-tama percaya bahwa mereka dapat berhasil.

7. Menangani masalah harga diri anak

Tidak dapat dipungkiri bahwa anak akan membuat kesalahan. Jangan selalu berteriak pada mereka, seperti misalnya: “Mengapa kamu tidak pernah mendengarkan!” atau “Jangan sentuh ini! Jangan sentuh itu!” Perkataan-perkataan tersebut melemahkan rasa percaya diri dan harga diri anak.
Jika mereka melakukan perbuatan nakal atau merepotkan sekali-sekali, itu bukanlah masalah yang besar. Selalu berteriak dan bereaksi dengan keras terhadap setiap hal yang anak perbuat bisa jadi lebih berbahaya dan merusak dibanding kerusakan fisik yang anda tanggung pada barang-barang anda.

8. Lebih banyak dorongan dan dukungan

Tumbuh berkembang tidak akan pernah mulus sepanjang jalan. Akan ada tawa, air mata, frustrasi, serta kegagalan. Ketika beberapa aspirasi tidak tercapai, anak-anak membutuhkan lebih banyak dorongan dan bantuan dari Anda. Jangan ikut menurunkan semangat mereka. Jaga agar mereka senantiasa merasa terdukung. Mimpi adalah bahan bakar yang memotivasi kesuksesan.

9. Tanamkan rasa hormat pada orang lain, kerjasama dan semangat kerja tim

Masyarakat adalah kelompok kolektif dan semuanya berlangsung melalui hubungan antarindividu. Itulah sebabnya kita perlu belajar untuk berkomunikasi dengan semua orang dan saling melengkapi keunggulan satu sama lain. Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka apa itu kerjasama yang baik. Dengan mengajarkan mereka untuk menghormati orang lain dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki pendapat berbeda, mereka dapat memiliki hubungan interpersonal yang lebih harmonis.
Keadaan emosional terbaik untuk anak-anak adalah kondisi yang penuh dengan kebahagiaan dan antusiasme. Ini adalah suatu keadaan di mana mereka memiliki hubungan interpersonal yang harmonis. Pada keadaan ini, mereka mengembangkan semua potensi mereka, menempatkan semua keterampilan dan bakat untuk digunakan secara penuh.